Halo, semuanya, saya akan bercerita tentang cara saya untuk dapat memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri. Tentu saja, hal ini bukanlah hal yang mudah dan instan, tetapi dapat dilakukan. Langsung saja. Cerita ini berawal pada saat saya berumur 6 tahun, di Jakarta, tepatnya di rumah paman saya. Pada saat itu, saya berada di ruangan kerja paman saya, di sana terdapat banyak sekali buku dan tumpukan-tumpukan kertas, mungkin itu adalah pekerjaan paman saya yang belum terselesaikan. Karena saya termasuk orang yang rasa keingintahuannya sangat tinggi, saya berkeliling, lalu jika saya menemukan buku dengan sampul yang menarik, akan saya ambil dan saya baca sedikit, lalu saya tempatkan kembali ke dalam rak buku tersebut. Saya terus menyusuri ruangan kerja paman saya sampai saya terhenti untuk melihat sebuah teleskop yang berwarna perunggu, atau mungkin terbuat dari perunggu, yang membuat saya sangat terpukau. Saya mengambilnya dan saya berniat untuk mencobanya. Lalu, secara tiba-tiba, saya merasakan perubahan pada tangan saya, mulai dari pergelangan tangan, sampai ke jemari-jemari saya. Tangan saya berubah warna dari yang sebelumnya berwarna sawo matang, sekarang menjadi berwarna biru muda berkelap-kelip dan sedikit transparan. Saya juga merasakan energi yang sangat panas pada tangan saya. Rasa terkejut saya belum berhenti sampai di situ, teleskop paman saya pun juga berubah, secara bentuk dan warna. Warnanya menjadi sama dengan tangan saya, dan bentuknya juga berubah secara perlahan menjadi seperti pistol dengan ujung yang panjang dan siap untuk ditembakkan. Saya merasa takut dan bingung dengan rasa penasaran yang masih menggebu-gebu. Pistol tersebut memiliki bentuk yang hampir mirip dengan pistol-pistol pada umumnya, memiliki pelatuk, dan lain-lain. Hanya saja, dengan upgrade sedikit menjadi seperti pistol dari alam astral yang berwarna biru muda berkelap-kelip.
Sinar matahari menyinari wajah saya menandakan sekarang
adalah tengah hari. Saya menjadi teringat bahwa ruangan kerja paman saya
memiliki jendela yang menghadap ke langit yang memungkinkan untuk paman saya
atau siapapun yang berada di dalam ruangan ini dapat melihat bintang-bintang
pada malam hari. Dan ternyata, jendela tersebut terbuka, mungkin saja paman
saya lupa untuk menutupnya. Dengan melihat jendela yang terbuka ke atas seperti
itu, pemikiran-pemikiran iseng saya
mulai muncul. Pistol yang masih berada di genggaman saya tersebut saya arahkan
ke atas menuju jendela paman saya. Tanpa ada perasaan ragu-ragu, saya tarik
pelatuknya. Sesaat setelah saya menarik pelatuk pistol tersebut, tertembaklah
sebuah sinar sangat menyilaukan dan berenergi sangat tinggi sehingga saya
terhempas ke bawah dan untungnya, sinar yang ditembakkan tersebut lebih kecil
dari jendela paman saya sehingga jendelanya tidak rusak. Setelah kejadian ini
semua, tangan saya dan teleskop paman saya secara perlahan kembali normal. Saya
merasa sangat bingung dan takut. Pada masa-masa setelah ini, ada banyak
kejadian lain yang serupa yang membuat saya takut untuk menyentuh
barang-barang. Saya juga selalu bertanya kepada diri saya, “Apakah yang salah
pada diri saya?”, “Mengapa saya berbeda dengan manusia-manusia yang lain?”
Singkat cerita, setelah bertahun-tahun, perasaan takut dan kebencian saya hilang pada
saat saya berumur 17 tahun saat saya lagi berkemah di hutan. Saya melihat
orang-orang yang dalam bahaya, lalu saya secara instan menolong mereka dengan
“keanehan” yang saya miliki sebelumnya. Setelah mereka terselamatkan, mereka sangat
berterima kasih kepada saya. Rasa terima kasih mereka menggeser paradigma saya.
Lalu, saya menganggap “keanehan” ini sebagai kekuatan saya. Saya akan terus
mengembangkan kekuatan saya untuk menolong orang-orang yang kesusahan. Saya
mencintai diri saya sendiri. Terima kasih.
Comments
Post a Comment