Sehat secara mental berarti seseorang tersebut dapat menyadari atau melaksanakan sesuatu sesuai dengan kapabilitas mereka masing-masing, dapat menghadapi stres kehidupan mereka, dapat bekerja dengan produktif, dan dapat berkontribusi untuk komunitasnya. Kesehatan mental meliputi kesejahteraan emosi, psikologi, dan sosial. Kesehatan mental memengaruhi kita dalam berpikir, merasakan, dan melakukan sesuatu. Kesehatan mental juga menentukan bagaimana kita dapat mengatasi stres, berelasi dengan orang lain, dan mengambil keputusan. Kesehatan mental penting dalam seluruh tahap kehidupan kita masing-masing, mulai dari kita kecil, dewasa, hingga masa tua nanti.
Dalam perjalanan hidup, jika mengalami masalah
kesehatan mental, pikiran, suasana hati, dan perilaku kalian dapat terpengaruh.
Ada banyak faktor yang berkontribusi dalam masalah kesehatan mental, seperti
faktor biologi (gen dan interaksi kimia pada otak), pengalaman hidup (trauma
dan pelecehan), dan sejarah keluarga dalam masalah mental. Masalah kesehatan
mental adalah hal yang umum, tetapi pertolongan akan selalu ada. Orang-orang
dengan masalah kesehatan mental dapat membaik dan banyak juga yang pulih secara
total. Berikut adalah tanda-tanda awal masalah kesehatan mental, makan atau
tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, menjauh dari orang-orang dan
kegiatan yang biasanya dilakukan, tidak atau sedikit memiliki energi, tidak
merasakan apa-apa (tidak ada yang penting), memiliki daerah yang sakit yang
tidak diketahui penyebabnya, berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau orang
lain, dan lain-lain.
Gen Z mungkin menghabiskan waktu lebih sedikit dalam sosialisasi
tatap muka dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya. “Jumlah remaja yang nongkrong dengan temannya setiap hari
telah berkurang sebanyak lima puluh persen dalam lima belas tahun, apalagi pada
masa pandemi seperti ini,” menurut Jean Twenge, psikolog. Dan sekarang, kata
Jean, pandemi ini memaksa seluruh masyarakat dunia untuk tetap di rumah,
interaksi sosial via “layar” pun hanya akan meningkat tinggi. “Banyak tren yang
sejak 2012 akan meningkat pada masa pandemi ini,” kata Jean. Bagi semua
generasi, 2012 adalah tahun yang sangat berpengaruh dalam hidupnya (tahun saat
mayoritas penduduk dunia memiliki smartphone).
Sebuah koran yang dipublikasikan oleh Joule
pada tahun 2018 menyebutkan bahwa pada tahun 2012, warga Amerika Serikat yang
berumur 18 sampai 24 tahun menghabiskan waktu di rumah empat belas hari lebih
banyak daripada tahun 2003. Siswa SMP dan SMA pada tahun 2016 juga menghabiskan
waktu empat jam lebih sedikit dan berpesta tiga jam lebih sedikit daripada
tahun ’80-an.
Dan menurut Jean juga, ada sebuah tren yang akan
meningkat selama masa pandemi ini, yaitu kemerosotan mental oleh Gen Z. Pada tahun 2017, sekitar 3,2 juta remaja AS
berkata bahwa mereka telah mengalami setidaknya satu depresi besar pada tahun
sebelumnya. Dan menurut The American Psychological Association, dibandingkan 15%
para milenial, 37% Gen Z cenderung mempunyai kesehatan mental yang buruk atau
kurang baik. Lalu pada tahun 2017, penyebab kematian terbesar kedua Gen Z
adalah bunuh diri. Jean berkata bahwa isolasi fisik yang Gen Z alami tidak
meningkatkan kebahagiaan maupun kesehatan mental mereka. “Menghabiskan minimal
satu jam dalam sehari bersama teman untuk meningkatkan kemampuan sosial,
bernegosiasi, dan menavigasikan emosi adalah hal yang baik untuk dilakukan,”
kata Jean.
Comments
Post a Comment